PETANI TIDAK LAGI MINAT TANAM ALBASIA - Karangnongko Information
Headlines News Klaten.Info :
Banner 1
banner2
Home » » PETANI TIDAK LAGI MINAT TANAM ALBASIA

PETANI TIDAK LAGI MINAT TANAM ALBASIA

Written By kiswanto adinegara on Sabtu, 17 Agustus 2013 | 19.37



Karangnongko ~Tanaman sengon laut atau albicia falcataria,dan petani sering menyebutnya albasia pernah mengalami masa keemasan diera 1990 an,ketika pemerintah menggalakkan program “sengonisasi”.

Di era kejayaan itu tanaman sengon putih dapat dijumpai  hampir disemua tempat mulai dipinggir jalan tol,untuk perindang jalan desa ,di pekarangan,di tegalan bahkan di tanah sawah.Pembudidayaannya ada yang monokultur dan dengan sistem tumpangsari. Kayu sengon laut merupakan bahan utama industri baik untuk kebutuhan  dalam negeri maupun untuk komoditas ekspor.Permintaan pasarnya sangat besar dan baik.
                 
Jenis tanaman yang cepat panen (quick yielding), ini terpilih sebagai tanaman penghijauan di daerah aliran sungai,tak terkecuali diwilayah kaki Merapi.Wilayah kecamatan Manisrenggo,Kemalang dan Karangnongko ,kabupaten Klaten merupakan lumbung sengon laut yang cukup terkenal hingga saat ini.

Luas pertanaman sengon laut  mencapai ratusan hektar,yang pengusahaannya dilakukan oleh petani terutama berlokasi di tanah tegalan.Seorang petani membudidayakan dan memiliki albasia jumlah vegetasinya berbeda-beda mulai dari 10 hingga ribuan batang.Tanaman sengon laut apabila dipelihara dengan baik pada lahan yang subur dapat dipanen saat umur 3,5 – 4 tahun.

Pada kisaran umur tersebut sudah masak panen dan batangnya dapat mencapai  diameter 30 – 35 cm.Harga normal perbatang dengan midle 35 cm,antara  Rp 350.000,00 – 400.000,00.Dengan kondisi aman dari serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) petani sengon dapat meraup keuntungan yang menggiurkan.Dengan jarak tanam 5 x 5 meter,dalam satu hektar lahan tegalan memiliki populasi  400 batang pohon pada saat awal tanam. 

Hingga panen populasi itu akan kian berkurang karena penerapan teknik penjarangan sesudah tanaman tumbuh lurus dan tinggi.Tanaman yang pertumbuhannya kurang baik dipotong untuk memberi kesempatan pada tanaman terpilih yang disisakan.Apabila populasi pohon hingga dipanen tinggal 100 batang saja,petani sudah dapat mengantongi hasil akhir Rp 37.500.000,00 (tiga puluh tujuh juta lima ratus ribu rupiah).

Sementara hasil yang lain seperti  kayu bakar dari penjarangan,hijauan pakan ternak dan tanaman tumpang sari belum diperhitungkan.Pemasaran sangat gampang pembeli datang dan menebang sendiri setelah transaksi terjadi.Demikian dituturkan Suyanto petani sengon dari desa Ngemplak,kecamatan Karangnongko kepada kontibutor klaten info.Suyanto mengaku  pernah berjaya dan berulang kali menanam albasia dilahan tegalannya .
               
Namun akhir-akhir ini petani sengon termasuk Yanto tidak lagi minat dan semangat untuk menanam albasia.Akibat merebaknya penyakit “tumor “,yang menyerang batang sengon ,menyebabkan tanaman sakit dan lama kelamaan mati.Penyakit ini sulit diobati,pernah dicoba dengan berbagai obat kimia tetapi tetap saja “tumor” itu menyerang.Penyakit ini sangat merugikan ,dari pada mengalami kerugian yang besar akhirnya para petani memilih menanam tanaman jenis  lain berupa tanaman buah-buahan seperti durian ,ucapnya.

Para petani berharap kepada pemerintah kabupaten Klaten,cq Dinas Pertanian dapat segera memberikan pembinaan teknis dan penyuluhan agar dapat mengatasi merebaknya serangan organisme pengganggu tumbuhan ( OPT ) berupa “tumor” pada tanaman albasia.Dengan demikian semangat dan minat berbudidaya sengon laut yang sangat menjanjikan akan bangkit serta bergairah kembali.

Oleh: Kiswanto
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Klaten.Info
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Karangnongko Information - All Rights Reserved
Ingin Buat Website? klik Jasaweb.Klaten.Info