JUMAT PON BULAN SHAFAR MERIAH ‘YAQOWIYU’ DI JATINOM - Karangnongko Information
Headlines News Klaten.Info :
Banner 1
banner2
Home » , » JUMAT PON BULAN SHAFAR MERIAH ‘YAQOWIYU’ DI JATINOM

JUMAT PON BULAN SHAFAR MERIAH ‘YAQOWIYU’ DI JATINOM

Written By kiswanto adinegara on Jumat, 27 Desember 2013 | 04.42

 
Suasana 'Nyebar Apem' Yaqowiyu di Jatinom (Sumber FB)


Jatinom ~ Tepat hari Jumat Pon tanggal 17 Shafar 1435 H atau 20 Desember 2013 acara ‘nyebar apem’ di Jatinom digelar ba'da sholat Jumat .Agenda Yaqowiyu atau lebih familiar bagi sejumlah warga adalah menyebutnya ‘nyebar apem’ atau Saparan.
     
 Ribuan orang rela berdesak-desakan ingin mendapatkan apem yang konon membawa berkah.Cerita rakyat Kiai Ageng Gribig ini telah turun temurun dari generasi ke generasi hingga di zaman teknologi informasi ini.
      
 Ya,siapa warga Klaten khususon  kawula muda yang tidak mengenal Yaqowiyu di Jatinom.Di era tahun 1970-1980 an anak-anak muda (muda –mudi) sekitar Klaten memanfaatkan agenda Saparan ini dengan caranya sendiri.Belum tentu ikut ‘rayahan apem’ seperti kebanyakan pengunjung yang tua-tua yang mencari keberkahan.
     
 Namun mereka  memanfaatkan acara ini di sekitar sungai dan goa jalan-jalan sambil cuci mata.Barangkali ketemu ‘jodoh’ kenang Giyanto ( 58 tahun) warga Kembang ,Kemalang mengenang saat muda dulu.Dengan mengayuh sepeda angin beramai-ramai bersama teman menuju Jatinom menempuh jarak kurang lebih 20 km.
          
Asal-usul Cerita Rakyat Kyai Ageng Gribig

Kyai Ageng Gribig yang bernama asli Wasibagno Timur, merupakan keturunan Prabu Brawijaya ke-5 dari Majapahit. Ia adalah seorang ulama besar yang memperjuangkan Islam di pulau Jawa, tepatnya di desa Jatinom Klaten.

Misinya adalah mengemban dawuh dari pendahulu tokoh utama atau dari kalangan walisongo, tujuannya meninggalkan dari kerajaan adalah ingin mengemban dakwah Islam dan juga mempunyai keinginan menjunjung tinggi Bangsa dan Negara.

Kyai Ageng Gribig munajat kepada Allah, Kyai Ageng Gribig tahan dan kuat bersemedi, maka terkabulah permohonannya dan mendapatkan ilham yang jelas dalam pendengarannya. Turunlah atau berhentilah lalu ia dari persemediannya, lalu petunjuk atau ilham yang diterima itu dilaksanakan. Petunjuk itu berbunyi ” sirolumakuwa saka girikene ngulana aja pati-pati sira, pegat anggonmu lumaku lamun durung tinemu uwit jati sak loron kang ana ereng-ereng merapi”, yang artinya berjalanlah anda dari Giri berjalan ke barat anda jangan sekali-kali berhenti apabila belum menemukan pohon jati (dua pohon jati) dilereng gunung Merapi (Jatinom sekarang).

Setelah mendapat petunjuk itu dia menjalankan, menemukan pohon jati yang masih muda dan yang sangat tinggi, setelah didekati hilang. Akhirnya salah satu pengikut memberi petunjuk cobalah Kyai menika sitinipun radi inggil yang artinya Kyai, tanahnya itupun agak tinggi, setelah beliau melihat dari tanah yang lebih tinggi, ternyata pohon tersebut kelihatan mengeluarkan cahaya yang sangat menyilaukan, dia sambil menyabda (memberi fatwa) bila suatu saat perkembangan jaman disini saya beri nama Njinggil (tanah yang lebih tinggi) hingga sampai sekarang disebut desa Njinggil diutara Jatinom.

Akhirnya setelah beliau menyabda dengan nama kampung atau dukuh Njinggil, Kyai Ageng Gribig berjalan kaki ke pohon tersebut untuk bertapa dipohon jati tersebut hingga beberapa tahun lamanya. Lalu pada saat itu beliau menerima ilham atau wangsit atau mukjizat dari sang Maha Kuasa, yang berbunyi karena jati ini masih muda tebanglah untuk mendirikan masjid. Lalu beliau melkasanakan ilham tersebut yaitu mendirikan sebuah masjid dan sekaligus mendirikan sebuah desa yang diberi nama Jatinom (Jati enom) yang artinya jati muda.

Jatinom adalah nama suatu kecamatan di Kabupaten Klaten yang terletak pada jalur utama yang menghubungkan antara Klaten dan Boyolali. Di Jatinom setiap bulan sapar dalam penanggalan Jawa atau Islam diadakan sebaran apem atau Yaqowiyyu. Tradisi ini dilaksanakan pada hari Jum’at di bulan Sapar yang berada di masjid besar Jatinom.

Orang Jatinom biasa menjadikan perayan ini sebagai ajang bersilaturahmi kesanak saudara. Pada saat itu setiap rumah membuat kue apem, yang nanti disajikan pada tamu yang datang. Tradisi ini konon bermula dari cerita tentang Kyai Ageng Gribig yang memberi kue apem kepada muridnya, tetapi jumlahnya hanya sedikit sehingga agar adil kue apem tersebut dilemparka ke muridnya untuk dibagi (Sumarta Sastra dan Indarjo: 1953).

Bahwa asal usul cerita rakyat Kyai Ageng Gribig saat dakwah beliau sangatlah mengena pada masyarakat dan pada saat itu masih memeluk agama Hindu Budha. Syiar beliau tidak hanya di daerah Klaten saja tetapi menyebar luas sampai ke luar daerah Boyolali dan Surakarta.

Kyai Ageng Gribig sangat pandai dalam Strategi dakwah, hingga masyarakat pada waktu itu masih kental dengan keyakinan pada pohon dan batu besar, menjadi beriman kepada Allah SWT. Keluhuran serta jasa beliau senantiasa terkenang dan melekat pada masyarakat terutama yang tinggal di Daerah Klaten dan Boyolali ( Sumber : Aziz Alfarizy.blogspot.com)

Oleh : Kiswanto




Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Klaten.Info
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Karangnongko Information - All Rights Reserved
Ingin Buat Website? klik Jasaweb.Klaten.Info