SEJARAH BERDIRINYA MASJID LAILATUL QODAR BERAWAL DARI 'LANGGAR' PANGGUNG TUA - Karangnongko Information
Headlines News Klaten.Info :
Banner 1
banner2
Home » » SEJARAH BERDIRINYA MASJID LAILATUL QODAR BERAWAL DARI 'LANGGAR' PANGGUNG TUA

SEJARAH BERDIRINYA MASJID LAILATUL QODAR BERAWAL DARI 'LANGGAR' PANGGUNG TUA

Written By kiswanto adinegara on Selasa, 06 Mei 2014 | 10.30





Masjid Lailatul Qodar kini , bercikal bakal langgar panggung gedhek dari Cawisan

 Karangnongko  ~  Pada era tahun 1960 an keberadaan masjid di wilayah desa Kadilajo ,kecamatan Karangnongko,kabupaten Klaten ,provinsi Jawa Tengah dan sekitarnya masih tergolong langka.Di desa ini baru ada satu bangunan masjid kuna yang berada di padukuhan Potro.

 
Foto Almh Mbah  Ardjopawiro lahir 1898 ,inisiator pembangunan MLQ (dok.kis12)

Tahun 1963 an keluarga  mBah Ardjopawiro (Alm) yang  familiar dengan sebutan mBah Bayan   berdomisili di padukuhan Kadilaju diberi  sebuah ‘langgar’ panggung tua terbuat dari kayu dengan dinding gedhek dengan dilengkapi padasan gerabah berlandaskan umpak batu sebagai tempat berwudlu dari nenek moyang keluarga Partowihardjo (Alm) di padukuhan yang sama.Konon langgar itu berasal dari padukuhan Cawisan , desa Argomulyo ,kecamatan Cangkringan , kabupaten Sleman , DI Yogyakarta dimana para sesepuhnya  berasal.

Umpak batu kali ukuran tinggi sekitar 35 cm , lebar bawah 45 cm dan lebar atas 30 cm itu hingga kini masih tertinggal dan berada di sekitar Masjid Lailatul Qodar.
 
Umpak Padasan yang tersisa
Di zaman itu warga muslim yang menjalankan syariat Islam belum sebanyak saat ini.Demikian halnya di padukuhan ini hanya ada beberapa keluarga yang  aktif menjalankan sholat lima waktu, kendatipun mereka kebanyakan ber KTP Islam.

Namun pada tahun 1965 ,ketika meletusnya Gerakan 30 September  / G 30 S oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) mushalla alias langgar kecil yang biasanya hanya berisi beberapa orang  ,mendadak penuh sesak oleh jamaah .

Anehnya beberapa tahun kemudian pasca G 30 S /PKI langgar itu kembali sepi  ditinggalkan jamaah ‘siluman’ tersebut karena dirasa kondisi telah aman,jelasnya mereka menyelamatkan diri dari sergapan operasi militer saat itu ,demikian dituturkan Umar Maksum ( 80 tahun) kepada kontributor klaten info.

Mengingat kondisi langgar panggung itu semakin renta dan kurang memadai untuk beribadah sholat,keluarga mbah Ardjopawiro menggagas berdirinya sebuah Masjid yang permanen untuk keluarga pada tahun 1967an.

 
Alm Hartosukirno & Kiswanto ( 1969 )

Dengan meniru desain Masjid Al-Mutaqqiin di pabrik tembakau Kebonarum yang dilihatnya setiap perjalanan ke pasar Klaten pulang pergi saat berbelanja dengan naik andong ,karena dinilai bagus desainnya.

Kemudian  menugaskan Kirmadji Hartosukirno (Alm) keponakannya selaku tangan kanan Mbah Ardjopawiro untuk minta izin ke pabrik , mencari tukang gambar dan melacak siapa tukang kayu yang dulu menggarapnya.

Nampak Teras Depan MLQ pra renovasi



Kemudian penggambar detil desainnya dipercayakan Dilan (Alm) guru menggambar SMPN Kemalang dari Banjaran dan tukang kayunya Moeljono dari Mayungan ,Klaten Selatan.

Akhirnya  impian mBah Ardjopawiro dapat diridoi Allah SWT,sehingga  berdirilah sebuah masjid  permanen yang indah dengan ukuran  5 x 7 meter,dilengkapi sumur ,kamar mandi dan tempat wudlu.Masjid ini kemudian untuk sholat berjamaah dengan imam pertama mBah Yotosudarmo (Alm) dan muadzin Abdulsalam (Alm).

Pemuda masjid yang aktif saat itu jumlahnya sangat minim diantaranya Jemidi alias Haryanto , Tukiran , Sukapto ( Alm ) , Supardi , Kadir , Tego dan anak-anak aktif diantaranya Ngadiso ,Kiswanto dan Mulyono

Sementara langgar panggung  itu dilintirkan kepada warga padukuhan Sepuluh untuk sarana ibadah mengingat disana belum ada tempat ibadah kala itu.Dan kini langgar rapuh itu telah menjelma menjadi masjid Nurul Huda yang cukup representatif bagi sarana ibadah dipadukuhan tersebut.
Bedhug Asli MLQ
Masjid Lailatul Qodar yang permanen dengan seluruh kayunya berupa jati kelas satu dibeli glondhongan dari kota Klaten tersebut digarap oleh tukang kayu profesional  yang dahulu  menggarap masjid Al-Mutaqqiin Kebonarum,yang dijiplak ( copy paste ) modelnya .

Di masjid ini juga dilengkapi sebuah bedhug yang berdimensi panjang 90 cm dengan diameter 60 cm terbuat dari kayu jati dan kulit sapi yang kini kondisi kulit sapinya sudah berlubang.

Masjid yang mulai dibangun sekitar awal bulan Juli  1967 dan selesai  10 Oktober  1967 ,itu menelan biaya  sekitar  Rp  175.000,00 (seratus tujuh puluh lima ribu rupiah) .Seluruh biaya pembangunannya  merupakan uang pribadi mBah Ardjopawiro tanpa bantuan dari manapun .Bangunan masjid apik pada zamannya itu berdiri dilahan milik pribadi yang kemudian   diwakafkan  seluruhnya untuk kepentingan  umat hingga sekarang.

Kemudian  masjid baru tersebut diresmikan oleh Soetijoso  bupati Klaten bersama sejumlah bangunan lain di desa Kadilajo kala itu ,dan diberi tetenger  alias nama  ‘ Masjid Lailatul Qodar ‘ ( MLQ )  oleh pendirinya atas  pertimbangan para sesepuh dan Kiai  Haji Asy'ari (Alm) seorang ustadz dari Gumutri ,Sleman ,DIY sebagai guru spiritual perdana keluarga  dan umat muslim sekitarnya.

Sapi Qurban
Di masjid ini saat menjelang berdirinya hingga  tahun 1977 an setiap tahun di bulan Dzulhijjah senantiasa diadakan penyembelihan hewan qurban berupa  seekor sapi dari keluarga mBah Ardjopawiro , dan dagingnya dibagikan kepada warga masyarakat sekitarnya.

Pada perkembangannya masjid Lailatul Qodar  pernah diperluas disisi utaranya dengan penambahan pawestren pada tahun 1980 an ,kemudian untuk jamaah sholat  Jumat warga sekitar secara mandiri. Sebelumnya warga ikut berjamaah sholat jumat di Masjid Al-Huda Kalikajar ,desa Keputran ,kecamatan Kemalang yang merupakan masjid tertua di wilayah kecamatan Kemalang.

Alm Sukapto
Akibat perkembangan jamaah yang kian banyak maka pada tahun 1993 masjid direnovasi dengan ukuran  12 x 8 meter  bangunan induk dan teras   ditambah pengimaman, gudang serta sumur gali,fasilitas  wudlu, kamar mandi ,jamban serta tempat parkir yang baru  hingga sekarang.Renovasi total tersebut termasuk memperbaiki arah kiblat yang semula dinilai belum tepat.

Kemudian pada 30 Oktober 2004 di padukuhan Kadilaju RT 02 RW I desa Kadilajo dilakukan peletakan batu perdana pembangunan sebuah masjid berarsitektur masa kini rampung sekitar 3 tahun dengan biaya sekitar Rp 200 jutaan .

Masjid Al-Munawwir ini dibangun secara swadaya guna dipersiapkan untuk melengkapi pembangunan Ponpes Al-Munawwir .Masjid itu menempati tanah dari Alm Suharno Kalikajar seluas sekitar 3.500 m2 yang diwakafkan pada takmir MLQ 18 Februari 2004,sebagaimana penuturan Wuryanto Nursalim takmir  Al-Munawwir kepada klaten info.


 
Masjid As'Salaf di Potro merupakan masjid tertua di desa Kadilajo. 




 
Masjid Nurul Huda di padukuhan Sepuluh cikal bakalnya juga  'langgar' panggung dari dk Kadilaju.





 
Masjid Al-Huda di Kalikajar masjid tertua di kecamatan Kemalang 


Masjid Al-Munawwir ,masjid berasitektur terkini dan kedua dipadukuhan Kadilaju

Dalam rangka memudahkan melihat dan mengingat sejarah  berdirinya masjid-masjid didesa Kadilajo barangkali perlu dibuatkan sebuah tetenger dari marmer atau bahan awet dipasang pada dinding bangunan berisikan informasi wakaf dari siapa dan kapan bangunan dibuat pertama kali serta informasi kapan pernah direnovasi, demikian penuturan Wuryanto NS menutup pembicaraan.

(bahan artikel dihimpun dari berbagai sumber terpercaya dan beberapa kali editing)


Oleh : Kiswanto
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Klaten.Info
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Karangnongko Information - All Rights Reserved
Ingin Buat Website? klik Jasaweb.Klaten.Info