AYAHKU - Karangnongko Information
Headlines News Klaten.Info :
Banner 1
banner2
Home » , » AYAHKU

AYAHKU

Written By kiswanto adinegara on Sabtu, 17 November 2018 | 05.56

Ayahku paling kanan 


Ayahku lahir di Kadilajo tanggal 8 Oktober 1917 dari rahim seorang ibu bernama Sasap Wiryo Sudarmo.

Mbah Sasap adalah puteri kedua dari Marto Wijoyo Lurah pertama desa Kadilajo kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Indonesia

Dengan demikian ayahku seorang cucu Lurah pertama di desa Kadilajo.

Kawit Ardjopawiro 
Ibu Sasap memiliki kakak perempuan bernama Kawit Ardjopawiro lahir 1893 yang menikah dengan mbah Bayan Keputran tanpa memiliki keturunan.

Mbah Wiryo Sudarmo memiliki dua putra pertama Kirmadji Harto Sukirno (1917) dan Ngatino Yitno Subroto.

Mbah Kawit Ardjopawiro sangat dekat bahkan menjadikan ayah yang merupakan anak keponakannya menjadi orang kepercayaan. Terutama dalam mengelola penggaduhan puluhan sapi kepada peternak penggaduh. Demikian pula saat mbah Bayan merealisasikan niatnya membangun masjid Lailatulqodar  secara pribadi tahun 1969

Ayahku menikah dengan Yatirah binti  Tukiyat Somahardjo sulung delapan bersaudara dari padukuhan Randuawar desa Kemalang kecamatan Kemalang Kabupaten Klaten pada 13 - 02 - 1948.

Tahun 1946 ayahku diangkat menjadi pegawai negeri sipil di kementerian Pekerjaan Umum, terhitung mulai tanggal 20 November 1946  dengan jabatan mandor pengairan di Kali Woro dengan gaji pokok Rp 10,00, sebagaimana tertera pada SK yang ditandatangani R Rachmat kepala urusan pegawai atas nama Menteri Pekerjaan Oemoem dengan nomor SK. As. 590,tertanggal 20-11-1946.

Ayahku adalah sosok yang rendah hati, jujur pekerja keras namun tidak ambisius jabatan.

Dibuktikan setelah sekitar 3 tahun menjadi PNS ayah tidak betah akhirnya resign alias keluar.

Saya pernah bertanya kenapa ayah keluar dari PNS, sementara saat itu jarang orang yang bisa sekolah formal hingga lulus ujian kemudian  memiliki ijazah dan bisa diterima jadi PNS.

Ayahku lulus SR diterima jadi PNS pusat ternyata jawabnya,  " saya tidak suka di reh ( diperintah), ingin mandiri.." katanya padaku diamini ibuku.

Bahkan kemudian ijazah SR ayahku direlakan untuk dipinjam saudaranya guna melamar pekerjaan.
Sehingga ijazah itu tidak dikembalikan lagi pada ayah.

Ayah Ibu dan anak anak (1969) 
Ayah ibuku mengajarkan anak anaknya jujur, sederhana dan mandiri dan senantiasa berilmu dengan cara menyekolahkan pada lembaga pendidikan formal.

Setelah keluar dari PNS ayahku, juga pernah diminta jadi carik desa karena nenek moyangnya Lurah yang era itu masih kental sistem kekerabatan namun ayahku tetap kukuh pada prinsipnya tidak mau di reh.

Akhirnya lebih memilih menjadi petani yang mandiri, menggarap lahan sawah pemberian orang tuanya sebanyak dua patok dengan luas sekitar setengah hektare.

Ibuku berdagang pakaian di pasar Kembang (Pahing)  dan di pasar Surowono, Tangkil, kecamatan Kemalang  setiap pasaran pon dan kliwon. Kalau kulakan ibuku sering ke pasar Bringharjo Jogja dan pasar Klewer Solo dengan naik bus umum.

Dari hasil bertani dan berdagang itulah orang tuaku bersemangat dan kerja keras agar anak anaknya tidak ketinggalan dalam pendidikan di sekolah.

Ayahku suka bekerja keras, bekerja cerdas, bekerja ikhlas dan bekerja tuntas agar diperoleh hasil yang optimal dan berkah.

Ibadahnya tekun tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu dan sering sholat berjamaah dengan isteri serta anak anaknya beliau jadi imam bertempat di ruang pesholatan keluarga.

Maklum era 1960 an belum ada masjid disekitar tempat tinggal kami.

Suara rendah dan halus serasa menyejukkan saat jadi imam itulah salah satu hal yang tidak akan pernah aku lupakan hingga kini.

Beliau sangat demokratis, bukan tipe otoriter sebagai kepala keluarga, segala sesuatu perlu dimusyawarahkan untuk mencari solusi terbaiknya.

Dekat dengan Ayah 
Rajin, teliti, tertib dan serba bisa adalah sosok ayahku yang sangat dekat dan sayang pada anak anaknya namun menurut perasaan beliau paling dekat denganku.

Barangkali karena weton kami sama yakni Senin Legi nilainya 9 konon siapapun yang berweton hari itu mudah bergaul sehingga disayangi teman temannya.

Ada mitos bagi wong Jawa ketika seorang bayi lahir punya weton sama dengan orang tuanya ( tumbukan), untuk menghindari hal hal yang tidak diinginkan bayi itu dibuang secara simbolis dan ditemukan orang lain,kemudian dikembalikan lagi.

Waktu diketahui bayi yang lahir 12 Maret 1956, itu berweton Senin Legi sama dengan ayahnya maka Kiswanto kecil saat itu dibuang dan yang menemukan mbah Trimo yang sejak muda beliau ndherek mbah Lurah Marto Wijoyo.

Yang dinilai unik konon ibunya ayah, ayah, saya dan anak ragil saya berweton sama Soma manis. Waallahu 'alam.

Saya ingat betul kendati ayah bukan lagi sebagai pegawai namun penampilan  beliau senantiasa rapi, kalau bepergian atau ada acara suka mengenakan setelan jas, berpeci hitam dan alas kaki berupa sepatu sandal kulit asli made in pak Sumpel pasar Klaten.

Di samping sepatu, property dari kulit sapi asli produk pak Sumpel yang kesohor yakni tas yang dipasang pada angsang sepeda angin.

Koleksi Topi Mandor 
Koleksi topi mandor terbuat dari plastik juga masih tersimpan, juga sejumlah senjata tradisional berupa keris dan pedang  peninggalan nenek moyangnya beliau simpan dan rawat dengan baik.

Kendati saya kecil dinilai nakal namun belum pernah sekalipun ayahku menanganiku beliau anti kekerasan dlm rumah tangga baik secara fisik maupun tutur kata.

Seumur umur saya belum pernah melihat ayah dan ibuku bertengkar dengan kata kata maupun secara kekerasan fisik.

Face ayah adalah senantiasa dihiasi senyum manis dan tutur kata yang santun.

Ayahku dulu perokok aktif, karena paru parunya sakit akhirnya berhenti merokok dan minta semua anak laki-lakinya tidak perlu merokok demi kesehatannya. Betul juga kami tidak pernah merokok sejak kecil hingga saat ini.

Ayahku pandai menulis dan membaca huruf arab gundul, tulisan huruf Jawa serta menulis alus. Beliau suka menulis hal hal yang dinilai penting seperti doa, serta setiap kelahiran anak anaknya dicatat secara tertib mulai nama, tempat tanggal lahir, jam, hari lengkap dengan pasaran (weton) serta tahun hijrah. Disamping ditulis di notes kemudian diarsipkan secara baik juga di duplikasi di belakang gebyog penyekat ruangan.

Kehebatan dalam kearsipan terbukti hingga kini SK pengangkatan PNS (1946), Surat nikah ( 1948), catatan waktu kelahiran anak anaknya serta dokumen juga sejumlah barang berharga masih ada dalam kondisi baik dan terawat.

Hampir semua jenis pekerjaan dirumah bisa beliau handel seperti servis sepeda onthel, memasang doran pacul, membuat suh sapu, membetulkan genteng,bahkan mencukur rambut ketika kami kecil.

Dalam rangka menyenangkan hati dan membuka wawasan ayah sering mengajak saya pergi melihat pasar malam di kota Klaten, melihat Sekaten dan tempat bersejarah di Jogjakarta naik sepeda angin, dan ke Semarang naik sepur. Dan demi masa depanku beliau mendorong saya sekolah keluar daerah setelah lulus SMPN Kemalang, yakni ke Ungaran Kabupaten Semarang.

Agar tahu bagaimana bertani saya juga sering diajak kesawah ikut mencangkul, merawat tanaman, memanen hasil, nurut banyu irigasi malam hari, serta membawa pulang hasil pertanian dengan cara nyunggi.

Harapan itu 
Kendati ayah tidak suka menjadi PNS, namun era tahun 1960 an menjadi pegawai pemerintah rasanya masih menjadi idola dan kebanggaan tersendiri, sehingga dengan menyekolahkan anak anak diharapkan kelak bisa bekerja dengan mapan walaupun gajinya kecil. Prestisius  nilai seseorang jika bisa menjadi pegawai negeri.

Anak anak digadang gadang setelah tamat sekolah bisa mendapatkan pekerjaan yang mapan utamanya PNS.

Ayahku adalah figur teladan yang tiada duanya, selalu mendoakan dan mendorong saya untuk maju dan sukses.

Di kampung ayah merupakan sosok teladan dan sering menjadi parang pitakonan seperti laiknya konsultan oleh masyarakat sekitarnya yang menghendaki saran solusi demi baik dan lancarnya urusan.

Ketuntasan urusan beliau sebelum wafat telah secara arif dan bijaksana serta demokratis menghibahkan harta bendanya kepada anak anaknya tanpa ada masalah.

Alhamdulillah ketika beliau dipanggil menghadap Tuhan Alloh SWT  semua anak anaknya Sri Mulyono ( alm) ,  Sukitri (1949), Sukapto (alm) (1952), Sukapti(1954), Kiswanto (1956) dan Siti Wiratni (1958)   telah mentas.

Diusia 85 tahun tepatnya Ahad Pahing tanggal 17 November 2002 ditengah bulan suci ramadhan pukul 02:05 menit dinihari beliau wafat setelah sakit tua dengan tenang dan tetap ada senyuman dibibirnya.

Almarhum kembali menghadap sang pencipta meninggalkan ibuku serta empat anak serta sejumlah cucu.

Subhanalloh alhamdulillah, allahuakbar.

Kami semua sedih dan berduka, namun harus ikhlas menerima kenyataan, atas musibah ini kami berucap innalillahi wa Inna illaihi roji'un semoga almarhum diampuni segala dosa dan kesalahannya dan husnul khatimah.

Terima kasih ayah, engkau telah mengajarkan banyak hal positif dan bermanfaat bagi kami

Maafkan kami, dan selamat jalan

Damailah ayahku disisi Allah SWT

Aamiin YRA.

Kadilajo, 17 November 2018
 (haul ke 16 ayahku)

By @kiss
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Klaten.Info
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Karangnongko Information - All Rights Reserved
Ingin Buat Website? klik Jasaweb.Klaten.Info