IBUKU - Karangnongko Information
Headlines News Klaten.Info :
Banner 1
banner2
Home » , » IBUKU

IBUKU

Written By kiswanto adinegara on Senin, 24 Desember 2018 | 00.31

ALMARHUMAH IBUKU 

Klaten, Terhadap ibuku kami sebagai keturunan Jawa tulen lazim memanggil simbok.

Dia lahir dari rahim seorang ibu bernama Ny Somahardjo, hari tanggal pasti tidak jelas dengan nama Yatirah binti Sukiyat Somahardjo.

Mbah Sukiyat Somahardjo 
Lahir di padukuhan Randuawar, desa Kemalang, kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten, provinsi Jawa Tengah. 

Sekitar 12 km dari kota Klaten arah barat laut menuju destinasi wisata alam Deles Indah yang berada di lereng Gunung Merapi. 

Simbok lahir sebagai pembarep dengan delapan saudara kandung.
Sembilan bersaudara itu terdiri dari 3 laki-laki dan enam perempuan. 

Simbok, Yatirah sulung dengan delapan adik secara berurutan Lamiyem /Sari (Proyomartono), Yatiyem Proyomartono, Mulakir Padmosukirno, Djuwali Dwidjowardojo, Dalimo, Sunanti Yanto supadma, Sukani dan Partini. 

Zaman ibuku lahir barangkali belum lazim ada semacam akte kelahiran, ada dua versi menurut cerita konon umurnya lebih tua dari ayah yang lahir 1917,sedangkan ibu diperkirakan lahir sekitar tahun 1905.

Ayah dan ibuku 
Versi kedua berdasarkan akta nikah nomor 40 / 16, tanggal  13 Februari 1948, ibu umur 26 tahun (1922), sedangkan ayah umur 31 tahun (08-10-1917).

Memiliki adik 8 orang, simbokku sejak kecil dididik untuk bekerja keras membantu orang tua salah satunya momong adik - adiknya,sehingga beliau buta aksara karena tidak diizinkan sekolah. 

Takdzim terhadap orang tua simbok kecil hanya sendika dhawuh. Karena mbah Somahardjo puteri berdagang pakaian (bakul sandhangan)  di pasar maka Yatirah juga diajari ikut kepasar. 

Di pasar Kembang jika pasaran Pahing dan Pon serta Kliwon ke pasar Surowono Tangkil Kemalang.

Setelah menikah, 1948 karena Ayahku kemudian memilih resign dari PNS kementerian PU simbok melanjutkan bisnis bakul sandhangan guna membantu  menopang ekonomi keluarga.

Ibu Ayah dan 6 anaknya 
Saudara kandungku yang lahir dari rahim ibuku yakni Sri Mulyono, Sukitri ( 10-08-1948), Sukapto (1952), Sukapti(1954) , Kiswanto (1956) dan bungsu Siti Wiratni (1958).

Ibuku setelah dinikahi ayahku Kirmadji Harto Sukirno bin Wiryo Sudarmo yang isterinya anak Lurah desa Kadilajo kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten pertama akhirnya domisili di Ndlajo.

Dengan demikian ayah ibuku merupakan cucu Lurah pertama di desa Kadilajo yakni mbah Marto Wijoyo.

Hikmak dari simbok tidak dapat mengenyam pendidikan, akhirnya bertekad sekuat tenaga ingin membekali anak anak nya dengan ilmu pengetahuan dari sekolah agar kedepan memiliki karakter dan daya saing yang memadai.

Ibuku adalah sosok pekerja keras,jujur, disiplin  dan sederhana. Kemudian kredo itu ditanamkan kepada putera puterinya sejak dini kemudian digadang bisa hidup rukun dan mandiri.

Ketika aku kecil manakala dinilai salah dan nakal tak segan ibuku menghukum dengan caranya sendiri, tanpa kekerasan pisik. Seumur umur belum pernah tangan ibuku menyentuh bagian tubuhku atas nama marah.

Menurut cerita ibuku  selepas disapih dari ASI hanya saya dari enam bersaudara yang tetap diberikan minum susu merk Camelpo hingga besar.

Yang masih saya ingat sering ibuku nyekoki dengan bobokan kulit pohon pijetan yang pahitnya minta ampun.

Di pasar malam Alun Alun Klaten dibulan Ramadhan saya konon pernah nangis hingga berguling - guling di tanah karena pingin dibelikan wayang kulit yang harganya mahal.

Dan yang terus saya ingat ketika barangkali kerewelan saya dinilai kebangetan saya diikat pada pohon mlandhing sebagai tiang jemuran diwetan pendopo dalam waktu  cukup lama.

Kemudian tali pengikat itu dilepas oleh ayahku sambil menasihati agar tidak nakal lagi.

Sejujurnya simbok sangat sayang, perhatian dan sabar terhadap anak - anak  terutama saat sedang sakit.

 Saya ingat betapa ibu telaten dan sabar merawat luka kakiku karena jatuh yang tak sembuh - sembuh dengan cara unik yakni mengompres menggunakan kapas yang dibasahi minyak kelapa kemudian dibakar pada api senthir.

Ketika ibuku sering menanyaiku saat kecil ingin jadi apa, katanya yang selalu beliau ingat dan katakan pada siapapun, cita cita ku konon kelak bisa  " uro - uro ".

Piala Juara 1 Nasional" Uro - uro "
Tatkala saya menerapkan jurus yang diwarisi simbokku kemudian dapat penghargaan juara 1 terbaik Nasional lomba pidato penyuluhan Kehutanan di Gorontalo Sulawesi Utara 24 Desember 1992, itulah makna dari perwujudan cita-cita "uro - uro"  itu.

Terlihat ekspresi wajah ibu tersenyum bangga atas prestasi anaknya yang dinilai paling nakal tapi sembada.

Sungguh, ibuku adalah
Semangat ku,
Inspirasiku,
pembimbing serta
matahariku.

Beliau adalah sosok perempuan kuat dan tahan banting, telah digembleng oleh orang tuanya Somahardjo dan dibuktikan setia seumur hidupnya mengabdikan diri demi keluarga tercinta.

Ujian demi ujian harus dihadapi dan alhamdulillah lulus cum laude yang pertama ketika ayahku sakit - sakitan karena sakit paru keluar masuk rumah sakit tatkala anak anak masih kecil dan butuh perhatian.

Alm Mas Sukapto 
Kedua sepertinya merupakan ujian terberat yakni ketika mas Sukapto sakit typhus hingga dirawat di salah satu RS Jogja ibuku totalitas menungguinya, namun Alloh SWT akhirnya memanggilnya pada bulan Juli 1973.

Anak laki-laki alim yang sangat disayangi wafat diusia belia 21 tahun (1952 - 1973),  membuat ibuku sangat sedih dan terpukul jiwanya.

Dan diakhir periode hayatnya masih diberikan ujian bukan lewat  anak - anak kandungnya yang dinilai tidak tahu diri dan kurang beradab sehingga sering menyakiti hati ibu serta keluarga besarku.

Naudzubillah mindzalik, astagfirullah al adzhim.

Jika dipikir dan direnungkan memang benar bahwa sejatinya  anak - anak dan suami /isterimu adalah ujian bagimu.

Perjuangan simbok sebagai anak mbarep yang super sekali untuk  membesarkan anak anak nya dengan kesabaran, kejujuran, kesederhanaan, kerja keras serta rasa tanggung jawab.

Dengan landasan semuanya telah diatur oleh Alloh SWT, " menungsa iku mung sak drema nglakoni" demikianlah kepasrahan ibuku yang sering disampaikan kepada anak anak nya.

Dengan demikian hidup ini senantiasa diwarnai rasa bersukur dan berserah diri hanya pada Gusti Alloh SWT.

Nisan Ayah dan ibuku 
Hingga beliau kembali menghadap Alloh SWT pada hari Rabu, 24 Desember 2008 pkl 15.45 wib pada usia 93 tahun versi perdana.

Saat itu bertepatan simbok menghadapi sakaratul maut, bakyu Sukitri tengah menjadi tamu Allah SWT di Mekkah Al Mukaromah menunaikan rukun Islam kelima.

Wa allahu 'alam bi shawab,  " menungsa mung sak drema Ndlajo ni,  Gusti Alloh ora sare"

Refleksi ucapan dan tindakan ibuku...
Ya simbokku perempuan kuat dan hebat  yang aku cintai.

Semoga diampuni segala dosa dan kesalahannya, serta husnul khatimah

Klaten, 24 Desember 2018
Haul ke 10 seda simbokku

By @kiss










Share this article :

4 komentar:

  1. semoga simbah bahagia ... Al fatekhah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah... Aamiin YRA.. Matur nuwun

      Hapus
    2. Alhamdulillah... Aamiin YRA.. Matur nuwun

      Hapus
  2. ROBANAGFIRLII WALI WALI DAYYA WALIL MUKMINNA YAUMA YAQUMUL HISAB

    BalasHapus

 
Support : Klaten.Info
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Karangnongko Information - All Rights Reserved
Ingin Buat Website? klik Jasaweb.Klaten.Info