UNIKNYA MANDI GAYA " SORGEM " DI TELAGA LEGUNDI GUNUNGKIDUL - Karangnongko Information
Headlines News Klaten.Info :
Banner 1
banner2
Home » , » UNIKNYA MANDI GAYA " SORGEM " DI TELAGA LEGUNDI GUNUNGKIDUL

UNIKNYA MANDI GAYA " SORGEM " DI TELAGA LEGUNDI GUNUNGKIDUL

Written By kiswanto adinegara on Jumat, 14 Desember 2018 | 19.33


Telaga Legundi Girimulyo Panggang Gunungkidul 

Lokasi Telaga Legundi berada di belakang balai desa Girimulyo,kecamatan Panggang, Kabupaten Gunungkidul DIY.

Dulu tahun 1978 airnya tidak kering sepanjang tahun, sehingga dimanfaatkan warga sekitarnya untuk air minum dijernihkan dengan tawas, mandi, cuci dan memandikan ternak.

Hal itu disebabkan karena belum ada air bersih dari PDAM serta sumber air lainnya, sehingga satu satunya andalan memanfaatkan air telaga

Sementara sebagian warga misalnya Desa Girikarto  justru memanfaatkan air hujan untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari - hari.

Air telaga  cukup jernih jika musim kemarau sedangkan keruh kecoklatan saat musim hujan. Disekelilingnya dikepung bukit kapur yang ditumbuhi pohon yang populasinya sangat jarang, bahkan gundul.

Sedangkan dipinggir telaga tumbuh pohon Beringin atau preh yang cukup besar.

Di telaga Legundi Girimulyo itulah saya mandi sehari dua kali dari rumah pondokan sekitar 1 km melewati jalan provinsi yang belum beraspal dan melewati Tanjakan cukup tinggi.

Di rumah kos Kadisobo 1978 
Telaga Legundi berada di padukuhan Legundi sedangkan kos kosan saya di padukuhan Kadisobo dirumah orang tuanya pak Sarjiyo mantan Kades setempat.

Saya tugas di Kecamatan Panggang Gunungkidul ( Camat Soetojo) mulai September 1978 hingga Juli 1980 sebelum hijrah ke kecamatan Ngawen.

Sarjiyo kebetulan teman seangkatan saat ditugaskan sebagai Petugas Lapangan Penghijauan (PLP) pada proyek Inpres Penghijauan.

Di bulak Kadisobo Panggang 1978
Wilayah kerja kegiatan saya adalah desa Girisuko ( Kades Kalam) dan Girimulyo ( Kades Sular, sekdes Suroto)  dimana desa itu mendapatkan alokasi anggaran proyek Penghijauan pembuatan tanaman pada lahan kritis.

Menempuh jarak 1 km dari rumah kos hingga telaga Legundi sering jalan kaki atau naik sepeda motor. Jika hanya jalan kaki setelah mandi hingga sampai rumah sudah kemringet lagi.

Awal mula saya tidak mau mandi di telaga yang terbuka bahkan antara perempuan dan laki-laki lokasinya cukup berdekatan tanpa tedheng aling - aling.

Telaga Legundi kini 
Terus terang saya tidak terbiasa mandi ditempat umum dan terbuka seperti itu, sehingga kikuk dan malu untuk memulainya.

Melihat fenomena seperti itu, akhirnya sementara saya tidak mandi di telaga tetapi dirumah ketika malam hari saat hujan turun memanfaatkan air terjun dari talang di sebelah barat rumah.

Dirumah pondokan  ternyata juga  tidak ada tempat mandi seperti bak dan sekat untuk semacam kamar mandi. Demikian pula jika BAB juga menggunakan jamban cemplung sistem garingan.

Mengingat kebiasaan saya sejak kecil lingkungan yang ada air jernih sangat melimpah baik dari sumber mata air maupun sumur gali di pekarangan.

Akhirnya saya bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan yang ada. Mandi, dan mencuci di telaga Legundi bersama Sarjiyo, adik - adiknya serta sejumlah warga.

Gaya Sorgem

Mandi secara Terbuka 
Dari budaya mandi di telaga secara terbuka inilah muncul istilah " sorgem"  akronim ngisor digegem, terutama bagi laki-laki kalau mau mandi melepas celana kemudian pakaian ditaruh dibebatuan terus nudes  nyemplung sambil menutup auratnya dengan tangan.

Sementara bagi perempuan menutupi auratnya dengan jarik secara cepat sambil nyemplung dalam air telaga.

Telaga setelah direnovasi 
Melihat telaga bak kolam renang  saya mencoba berenang dari ujung satu keujung yang lainnya. Action saya malah jadi tontonan warga karena ternyata jarang sekali ada orang renang di telaga yang cukup luas dan dalam airnya itu.

Kebiasaan renang sejak kecil sudah saya peroleh dari kali mblumbang, dam pengairan Gayam sewu, umbul Brintik dan umbul Pluneng dekat bumi kelahiran.

Sungguh pengalaman unik  mandi di telaga  ini menjadi sangat berkesan dalam hidup saya bahkan betul - betul sebagai pengalaman perdana hidup di zona pegunungan sewu.

Menikmati keberadaan telaga sesuai kelaziman budaya setempat merupakan penghayatan dengan manjing ajur ajer bersama masyarakat dan lingkungannya agar misi penyuluhan  tercapai.

Telaga Legundi semoga engkau tetap eksis dan lestari sehingga tetap bermanfaat bagi kehidupan.

Klaten, 15-12-2018

By @kiss
Share this article :

2 komentar:

  1. Sebuah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku...

    BalasHapus
  2. Sebuah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan seumur hidupku...

    BalasHapus

 
Support : Klaten.Info
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Karangnongko Information - All Rights Reserved
Ingin Buat Website? klik Jasaweb.Klaten.Info